Pop Culture

What ‘Friends’ taught me about friendship

Akhirnya saya punya kesempatan untuk review sedikit tentang serial Friends. Dari episode pertama saya sudah langsung menobatkan bahwa Friends adalah comfort series saya. I love settingannya; 90s vibe and New York, i love Central Perk, i love the intros and saya sangat mengagumi pertemanan mereka. Di artikel ini saya akan membahas sedikit tentang apa yang saya pelajari dari serial Friends, let’s go~

friends casts photoshoot
Source: Pinterest

The ICONIC one and only: Central Perk. Kafe yang interiornya aesthetically pleasing selalu jadi tempat 6 pemeran utama untuk hangout. Mereka selalu ada disana—tanpa agenda, tanpa invitation, tanpa alasan khusus. Mereka cuma dateng, dan masing-masing mengetahui bahwa mereka akan selalu ada disana.

Ternyata, dalam literatur sosiologi ada nama untuk tempat seperti ini: third place. Tempat selain rumah dan tempat kerja atau kampus — ruang netral yang murni sosial dan rekreasional. Dan Danielle Jackson, seorang friendship educator sekaligus host podcast Friend Forward, menjelaskan betapa krusialnya ini:

“Having a designated space that is purely recreational and communal sets the tone for exchanging ideas and enjoying each other’s company, which can lead more depth in a friendship”.

Danielle Jackson , friendship educator & host of friend forward podcast

Saat ini, sudah banyak kafe yang bisa dijadikan third place dengan fasilitas yang nyaman dan memadai, serta interior yang unik. Bahkan menurut database global Point of Interest (POI) per November 2025, Indonesia memiliki kedai kopi tebanyak berjumlah 461.991 ribu. Selain untuk hangout, saya sendiri suka menggunakan third place sebagai tempat untuk bekerja dan belajar.

Monica, Chandler, Ross, Rachel, Joey, dan Phoebe— semua tinggal di gedung yang sama atau di blok yang berdekatan. Ini bukan kebetulan.

“Having people nearby is definitely beneficial to social connection. What we know from the research is that it’s critical to our mental health”. —Colleen Marshall, a licensed marriage and family therapist.

Selain di Central Perk, mereka (Monica, Chandler, Ross, Rachel, Joey, dan Phoebe) sering menghabiskan waktu dan liburan di apartemen Monica. Mereka masing-masing memegang kunci cadangannya, tapi sometimes… kuncinya sering disalahgunakan untuk sekedar menonton TV, makan, atau mengobrol LOL. And.. di momen itulah saya merasa bonding pertemanan mereka sangat kuat, kepercayaan yang mereka miliki sangat rare ditemukan, atau lebih tepatnya.. saya belum menemukan pertemanan seperti itu selama hidup 21 tahun.

Ada sesuatu yang lebih dalam di sini. Riset tentang koneksi sosial menunjukkan bahwa kedekatan fisik itu benar-benar mempengaruhi kualitas dan frekuensi hubungan. Bukan berarti jauh itu mustahil — tapi ada sesuatu yang berbeda ketika pertemuan tidak butuh penjadwalan besar, tidak butuh effort yang terasa seperti event.

Yang membuat enam karakter itu bisa saling ada di momen-momen kecil — nongkrong tanpa rencana, minta tolong hal sepele, sekadar ketuk pintu — adalah karena jarak fisik mereka memungkinkan itu. Dan ternyata, momen-momen kecil itulah yang justru membangun ikatan paling dalam.

As i grow older, momen kecil seperti itu semakin susah untuk dilakukan. Teman yang pindah rumah, teman yang sudah berkeluarga, teman yang melanjutkan pendidikannya di luar kota dan negeri, and simply perbedaan jadwal 360 derajat. that’s why di beberapa momen dalam serial Friends feels like a dream for me.

Dialog yang disampaikan Phoebe terjadi karena saat itu Joey memilih untuk pergi ngedate daripada tidak datang ke pertemuan mereka. Dari dialog itu pula terlihat seberapa besar Phoebe menghargai pertemanan mereka, Joey pun langsung sadar akan hal itu.

Momen lainnya adalah ketika Joey pernah rela menahan perasaannya ke Rachel demi menjaga persahabatannya dengan Ross. Bukan drama, bukan keputusan mudah — tapi itu pilihan sadar yang ia buat karena persahabatan itu lebih penting.Dalam analisis psikologi karakter Friends, disebutkan bahwa persahabatan mereka adalah prioritas nomor satu dan tidak ada yang bisa merusaknya. Menjadi teman berarti hadir, supportif, dan peduli — bahkan ketika itu nggak nyaman. (Sumber: Almost A Psychology Geek) Dan ini yang sering kita lupa: persahabatan itu bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Ia tumbuh karena dipilih, dirawat, dan diprioritaskan — setiap harinya.

joey tribbiani
JoeyTribbiani from Friends. Source: Pinterest

Mayo Clinic sudah lama mengkonfirmasi bahwa persahabatan yang kuat berdampak langsung pada kesehatan fisik dan mental — menurunkan risiko depresi, tekanan darah tinggi, dan masalah kesehatan lainnya. Bahkan US Surgeon General pernah menyebut kesepian sebagai krisis kesehatan publik yang dampaknya setara dengan merokok 15 batang sehari.

Sometimes, i need to reread that paragraph untuk validasi my own feelings ketika jadi needy mau ketemu my friends. Spending time together is my type of RICH in life because “when you’re single and in the city, your friends are your family” hahaha. See you on my next blog buddy! ^.^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *